Kumpulan Makalah

Subscribe:

Ads 468x60px

Social Icons

About

Blogger news

Blogroll

Sabtu, 23 Maret 2013

5 Pilar Usaha Pembangunan Peradaban Islam Di Indonesia





1. Menumbuhkan dalam self Insan berupa Nilai-nilai spiritualitas
2. menumbuhakan & mengembangkan Self Insan Nilai-nilai Profesionalitas
3. Interpransip
4. Mengusai Teknologi & 
5. Melihat Keluar

     Dengan 5 pilar yang telah disebutkan , ini harus di miliki para kader-kader insan muslim di indonesia demi mewujudkan sebuah peradaban pembangunan usaha muslim di indonesia.
kemudian sebuah ungkapan dalam Tekstualis menyebutkan, Hal ini yg perlu di cerna dengan cerdik bahwa, berbisnis/berwirausahawan gk akan terealisasi hanya karna dengan TEORI, tetapi harus bergegas Praktik dan bertindak. dengan bertindak demikian yakinkan bahwa harapan teralisasiny' seorang pengusaha akan terwujud.
di dalam usaha tak luput dari sebuah kegagalan, gagal usaha dalam hal ini bahwa yang sesungguhny' malah menumbuhkan infestasi masa depan yang luar Biasa.
     dari rangakaian Teks ringkas demikian semoga bisa menjadi motifasi yang membangun Bagi kita semua & bisa merubah apa yg telah kita cita-citakan Demi terwujudny' sebuah pemimpin yang berhasil melahirkan para pemimpin. Bukan Pemimpin yang membawa pengikut.

Minggu, 17 Maret 2013

Dialektika George Wilhelm Friedrich Hegel

 


Sosok: G.W Friedrich Hegel


BAB I
PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang
Filsafat  sejarah merupakan komponen yang tak dapat dipisahkan dari rangkaian keilmuan filsafat secara umum.Bagian integral yang berpengaruh dalam memahami dan mengkaji sejarah dari sudut pandang filsafat.Memandang sejarah bukan hanya masa lampau namun juga menjadi unsur perubahan dari masa ke masa.
Beberapa tokoh bermunculan dari ranah filsafat sejarah,dan Hegel termasuk didalamnya.Dia merupakan salah satu filsuf ternama yang dihasilkan Jerman sebagai sebuah tempat yang layak bagi lahirnya beberapa filsuf terkenal dan berpengaruh. Disamping Immmanuel Kant,Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kapabilitas rasio yang mampu menterjemahkan hidup dalam bentuk rumus dialektikanya yang terkenal. Hegel seorang yang progresif dalam berfikir dan bertindak,meskipun tidak reaksioner dalam bersikap terhadap realitas.Filsafat Roh yang merupakan karakternya,yang dia akui merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling dizaman pertumbuhan filsafat idealisme Jerman abad-19.Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak. Makalah ini akan menjelaskan sedikit tentang Hegel, baik dari biografi, karya-karyanya dan juga pemikirannya.

B.   Rumusan Masalah?
a)      Memahami Riwayat Hidup G.W Friedrich Hegel?
b)      Apa karya tulis G.W Friendrich Hegel?
c)      Bagaimanakah Idealisme & pemikiran G.W Friendrich Hegel?


    BAB II
PEMBAHASAN
1.      Riwayat Hidup G.W.F Hegel
George Wilhelm Friedrich Hegel tokoh terbesar dari filsafat idealis lahir di kota Stuttgart pada tanggal 27 Agustus 1770 dan meninggal pada tanggal 14 November 1931. Beliau dari keluarga pegawai negeri, ayahnya merupakan pekerja di kantor keuangan kerajaan Wurtenberg. Tahun 1788 dia masuk sekolah teologi yaitu Universitas Tuebingen. Di sana dia mengenal penyair Holderlin dan Schelling. Pada awalnya dia sangat tertarik dengan teologi, dia bahkan menganggap filasafat adalah teologi dalam pengertian penyelidikan terhadap Yang Absolut. Dari tahun 1790 sampai 1800 bisa dibilang Hegel hanya menghasilkan karya-karya yang berbau teologi antara lain “The Positivity of Christian Religion” tahun 1796 dan “The Spirit of Christianity” tahun 1799.
Hegel selanjutnya setelah sempat tinggal di Swiss, mengajar di Universitas Jena tahun 1801, di sana dia selain mengajar dia juga bekerjasama dengan Schelling dalam menyunting jurnal filsafat. Tahun 1807 terbitlah “Die Phanomenologie des Geistes” (Fenomenologi Roh) yang merupakan dasar dari sistem filsafatnya. Hegel sendiri juga terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada masa ia hidup. Peristiwa itu adalah dikalahkannya pasukan Prusia oleh tentara Prancis di bawah pimpinan Napoleon tahun 1806 (Napoleon di Berlin (Lukisan karya Meynier). Setelah mengalahkan tentara Prusia dalam pertempuran Jena-Auerstedt, tentara Perancis memasuki Berlin pada tanggal 17 Oktober 1806). Dengan demikian Prusia dikuasai oleh pemerintahan Napoleon. Dalam pemerintahan Napoleon rakyat Prusia hidup dalam iklim yang jauh lebih demokratis, kebebasan pers misalnya sangatlah dijunjung tinggi. Namun ternyata Napoleon tidak dapat bertahan lama menguasai Prusia, karena lewat peperangan sengit antara Leipzig dan Waterloo, Napoleon pun dikalahkan tahun 1816. Kekaisaran Prusia kembali dipulihkan dan pemerintahan yang bersifat otoritarian kembali dijalankan di seluruh wilayah Prusia. Perlu diketahui Hegel yang pada masa revolusi Prancis bersimpati pada gerakan Jacobin (anggota dari gerakan radikal yang instituted the Reign of Terror selama Revolusi Perancis) yang radikal, ternyata pengagum Napoleon. Dia menyebut Napoleon sebagai Roh Dunia dan kagum atas kejeniusan dan kekuatan Napoleon. Namun ketika kekaisaran Prusia direstorasi dia juga menyatakan diri sebagai pengagum kekaisaran Prusia bahkan menjadi seorang propaganda aktifnya.
Tahun 1818 dia menggantikan Fichte sebagai Profesor di Universitas Berlin dan di sana dia mempublikasikan sebuah karya yang sangat berpengaruh terhadap filsafat politik dan filsafat hukum, buku yang terbit tahun 1820 itu berjudul “Grundlinien der Philosophie des Rechts” (Garis Besar Filsafat Hukum). Selanjutnya terbit juga buku-buku lain yang merupakan hasil dari kuliahnya di Universitas Berlin, yang terpenting dari beberapa karyanya itu adalah “Philosophy of History”. Hegel meninggal di Berlin tahun 1831 sama dengan nasib anaknya yang tidak diakuinya yang meninggal di Jakarta –dulu Batavia—saat menunaikan tugasnya sebagai tentara Belanda tahun 1831.[1]
2.      Karya G.W Frendrich Hegel
Dalam karya besarnya, salah satunya ialah The Encyclopedia of the Philosophical Sciences, Hegel membagi sistem filosofisnya ke dalam tiga bagian: logika, filsafat alam, dan filsafat roh. Dalam logika—bukan dalam pengertian tradisional—dia menjelaskan struktur kategorial idea yang mendasari segala yang ada. Dua bagian yang lain merupakan penjelasan dari struktur konseptual yang lebih spesifik yang mewujud dalam alam dan roh; dimana keduanya adalah area manifestasi idea.
Metode yang digunakan Hegel untuk membuktikan tesisnya tentang pengetahuan rasional tentang yang absolut adalah metode dialektika. Metode ini muncul sebagai reaksi atas pembatasan Kant atas pengetahuan hanya pada yang sensible dan pendapat Kant yang memustahilkan pengetahuan rasional murni atas yang absolut. Tidak seperti Kant yang membatasi pengetahuan pada pengalaman (phenomena), Hegel memilih untuk memahami keseluruhan yang menjadi dasar semua pengalaman. Metode dialektik yang diadopsi Hegel berbeda dengan dialektika yang dikenal sebelumnya. Karena, bagi Hegel, dialektika Plato, misalnya, tidaklah murni dialektik karena ia bermula dari proposisi yang telah diasumsikan, yang karenanya tidak bersumber dari masing-masing elemen dialektik.
Menurut Hegel, dialektik terdiri dari tiga aspek secara berurutan. Yang pertama adalah aspek abstraksi, dimana pemahaman mengasumsikan bahwa sebuah konsep adalah tidak terikat dan sepenuhnya terlepas dari hal lain. Aspek kedua adalah aspek negasi ketika pemahaman menemukan bahwa ternyata konsepnya tidaklah sepenuhnya terlepas dari yang lain, ia harus dipahami dalam kaitannya dengan hal lain. Pada titik ini, pemahaman terperangkap dalam kontradiksi; disatu sisi ia harus mengasumsikan ada yang tak terikat untuk mengakhiri rangkaian ikatan-ikatan, tapi disisi lain ia tidak bisa mengasumsikan yang tak terikat karena ia selalu menemukan batasan yang mengikatnya. Tahap ketiga adalah tahap spekulatif atau rasional yang mengakhiri kontradiksi antar dua tahapan sebelumnya dengan memandang bahwa yang tak terikat bukanlah sesuatu yang tersendiri melainkan keseluruhan dimana segala yang terbatas hanyalah bagian darinya. Dengan demikian bagi Hegel, keseluruhan mendahului bagian-bagiannya. Dalam kaitannya dengan agama, Hegel meyakini bahwa filsafat adalah pemahaman rasional terhadap keimanan keagamaan. Sesuatu yang oleh seni dan agama dipahami pada tingkat intuisi, oleh filsafat dipahami pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu level konsep atau pemikiran sistematis. Konsep Hegel tentang yang absolut dalam batas tertentu setara dengan konsep Tuhan dalam konsep agama tradisional. Bahkan Hegel sering merujuk pada yang absolut dengan kata Tuhan.[2]
Beberapa segi konsep Hegel juga mendukung konsep yang dikenal dalam agama tradisional, seperti konsep teleologinya yang merestorasi konsep perhatian ilahiah (providence) dalam agama Kristen. Konsep perkembangan yang dijabarkan Hegel mendukung doktrin trinitas, yang baginya sang bapa merepresentasikan momen kesatuan, sang anak momen perbedaan, dan roh kudus momen kesatuan dalam perbedaan. Tapi dalam beberapa hal yang lain, Hegel juga menolak beberapa aspek agama Kristen. Misalnya, dia menolak doktrin Tuhan transenden yang melampaui alam dan sejarah. Baginya, yang absolut tidak dapat melampaui alam dan sejarah karena ia mewujud hanya di dalam dan melalui keduanya.
3.      Filsafat idealisme & Pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
a)       Filsafat Idealisme Hegel.
Tokoh idealisme Jerman terbesar pasca Kant adalah Hegel dengan idealisme absolutnya, satu generasi lebih muda dari Kant. Hegel dikenal dengan idealisme absolut yang dengannya dia mencoba merehabilitasi metafisika.
Tulisan ini akan secara singkat memaparkan idealisme absolut menurut Hegel disertai beberapa penjelasan konsep kunci yang terkait dengannya.
Penjelasan Istilah Menurut sebuah kamus filsafat, idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea); bahwa ide-ide ada sebelum keberadaan sesuatu yang lain; bahwa ide-ide merupakan dasar dari ke-ada-an sesuatu.[3] Dalam kamus lain dijelaskan bahwa idealisme adalah sistem atau doktrin yang dasar penafsirannya yang fundamental adalah ideal. Berlawanan dengan materialisme yang menekankan ruang, sensibilitas, fakta, dan hal yang bersifat mekanistik, idealisme menekankan supra-ruang, non-sensibilitas, penilaian, dan ideologis. Dalam tataran epistemologis, idealisme berpendapat bahwa dunia eksternal hanya dapat dipahami hanya dengan merujuk pada ide-ide dan bahwa pandangan kita tentang alam eksternal selalu dimediasi oleh tindakan pikiran.[4]

b)      Dialektika.
Dalam menjelaskan sistem filsafat Hegel, kurang begitu lengkap jika tidak menyinggung triadik Hegel: tesa, antitesa, dan sintesa. Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh tentang ketiga hal ini, ada baiknya kita pahami walau selintas, istilah “ide” dan “dialektika” sebagai dasar pemahaman awal kita menuju pengertian tiga istilah di atas.
Sebagaimana tersirat dalam uraian sebelumnya, dialektika merupakan suatu “irama” yang memerintahkan seluruh filsafat Hegel. Menurut Llyod Spencer dan Andrzej Krauze, dialektika bukan merupakan “metode” atau suatu sistem yang prinsip, sebab yang menyebabkan ia begitu rumit untuk dijelaskan karena proses dialektika hanya mudah dimengerti dalam hal yang bersifat konkret . Barangkali karena alasan demikian , Hegel tetap bersikukuh pada keyakinannya bahwa antara “idealitas” dan “realitas” tidak ada perbedaan. Pengertian ini, oleh Hadiwijono, justru dipahami sebagai pengertian ontologis dialektika itu sendiri. Bahwa pengertian-pengertian dan kategori-kategori sebenarnya bukan hanya yang menyusun pemikiran kita, melainkan suatu kenyataan sebagai kerangka dan hakikat dunia dalam pikiran.[5] Dengan demikian, dialektika dapat kita pahami sebagai usaha mendamaikan dan mengompromikan hal-hal yang berlawanan.[6] Kendatipun lalu akan kita ketahui, bahwa sistem inilah yang akhirnya menjadi kelemahan Hegel karena terlalu memaksakan dialektika terhadap segala sesuatu. Dan dari sini, semakin nampak bahwa suatu perbedaan, pada hakikatnya akan menjadi ancaman serius dalam filsafat Hegel.
Hal yang membedakan dialektika Hegel dengan logika Klasik adalah pada logika klasik tidak dipercayainya prinsip kontradiksi, sedangkan dalam konsep dialektika Hegel dimungkinkan. Hegel percaya bahwa kontradiksi dialektik adalah titik sentral dalam pemahaman alam. Dan kontradiksi itu ia simbolkan melalui triadik dealektik: tesis, antitesis, dan sintesis.
Proses dialektika terdiri atas tiga fase:
1. Tesis
2. Antitesis
3. Sintesis
Contoh aplikasi dialektika (diambil dari Bertrens, 1979:69): Ada tiga bentuk Negara: (1) Diktator. Disini hidup warga Negara diatur dengan baik, tetapi warga Negara tidak memiliki kebebasan (tesis). (2) Keadaan ini menampilkan lawannya, Negara anarki (antitesis). Dalam bentuk ini warga Negara memiliki kebebasan tanpa batas, tetapi kehidupan kacau. (3) Tesis dan Antitesis ini disintesis, yaitu Negara demokrasi. Dalam bentuk ini kebebasan warga Negara dibatasi oleh undang-undang, dan hidup masyarakat tidak kacau.
Uraian di atas dapat kita jelaskan dengan menyimak masing-masing pengertian tiga istilah triade tersebut. Pertama, tesis, merupakan “yang ada”. Sebagai pengertian umum, maka ia lepas dari segala isi yang konkret. Tidak memuat apa-apa dan tidak dapat dijelaskan bagaimanana. Ketiadaan pengertian yang jelas dari tesis ini melahirkan triade kedua, sintesis, atau “yang tidak ada”. Triade terakhir ini mengandung pengertian yang sama dengan tesis, artinya perngertian yang tidak dapat dimengerti bagaimana. Begitu kebuntuan terjadi di masing-masing triade, maka muncullah sintesis atau “yang menjadi” sebagai titik sentuh dari tesis dan sintesis. Namun ternyata proses dialektika itu tidak berhenti sampai titik ini. Pengertian “menjadi” ini mengandung pengertian “yang menjadikan”. Karenanya, “yang ada”, karena “menjadi”, berada sebagai “yang terbatas”. Adanya sesuatu “yang terbatas” ini bisa menjadi tesis baru, dan karenanya mengandaikan suatu “yang tidak terbatas”, atau antitesis baru. Dengan demikian, keduanya akan mengahasilkan sistesis baru sebagai aufhebung. Kata aufhebung atau aufheben dari Hegel berkaitan dengan fase ketiga dari dialektika yang dikenal dengan fase sintesis itu. Di dalam fase ini, terjadi aufheben yang berarti terjadinya negasi dan pengangkatan. Terjadinya negasi berarti bahwa tesis dan antitesis sudah lewat dan tidak ada lagi, sedangkan pengangkatan memiliki arti bahwa walaupun tesis dan antitesis dinegasikan, tetapi kebenaran daripada tesis dan antitesis tetap dipertahankan dan disimpan di dalam sintesis dengan bentuk yang lebih sempurna.[7]





BAB III
PENUTUP
Ø Kesimpulan
·         Tokoh idealisme Jerman terbesar pasca Kant adalah Hegel dengan idealisme absolutnya, satu generasi lebih muda dari Kant. Hegel dikenal dengan idealisme absolut yang dengannya dia mencoba merehabilitasi metafisika.
·         idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea).
·         Proses dialektika menurut Hegel terdiri dari tiga fase, yaitu: Fase pertama (tesis) dihadapi antitesis (fase kedua), dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis).




DAFTAR PUSTAKA
Van der Weij, P.A. Dr. Filsuf-filsuf Besar Tentang Manusia, Yogyakarta Kanisius, 2000.
Kenny, Anthony. An Illustrated Brief History of Western Philosophy. Oxford: Blackwell.
Hadiwiyono, Harun. Dr.Sari Sejarah Filsafat Barat 2.Kanisius,Yogyakarta.2005
Tafsir, Ahmad. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai capra ,Pt Remaja Rosdakarya  Bandung.
Bunnin, Nicholas & Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. (Oxford: Blackwell Publishing. 2004.




[1]Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hlm. 102-103
[2] Anthony Kenny, An Illustrated Brief History of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2006), h. 302.
[3]Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2004), h. 322.
[4] Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, op. cit., h. 323.
[5] Harun Hadiwiyono,Dr.Sari Sejarah Filsafat Barat 2,hal 101
[6] Ahmad tafsir. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james, hal 153

[7] Dr. Harun Hadiwiyono.Sari Sejarah Filsafat Barat 2,hal 102

Sabtu, 16 Maret 2013

TEORI STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS



PENDAHULUAN

       I.            Pengantar
Membahas mengenai manusia sungguh sangat luas dan kompleks. Berbagai bidang ilmu memusatkan perhatian masing-masing untuk memahami manusia. Misalnya, Biologi mencoba memahami manusia dari sudut biologisnya, psikologi mencoba melihat manusia dari sisi ke jiwaan dan perilakunya, dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam makalah ini kami akan membahas teori Strukturalisme dari Lévi-Strauss. Kami pemakalah akan memberikan pemaparan mengenai teori strukturalisme dari Levi-Strauss. Teori strukturalisme pada intinya berpendapat bahwa dalam segala keanekaragaman budaya tentu ada sebuah struktur pembentuk yang sifatnya universal, sama dimanapun dan kapanpun. Claude Levi-Strauss sendiri dikenal sebagai Bapak Strukturalisme, karena memang beliaulah yang pertama kali menjelaskannya secara lebih rinci dan detail.
    II.            Rumusan Masalah?
a)      Seperti apakah biografi Levi-Strausa?
b)      Bagaimana Penjelasan teori strukturalisme dari Levi-Strausa?
c)      Bagaimanakah tanggapan kritis strukturalisme ini?


POKOK BAHASAN

A.    Hidup dan Karya Lévi-Strauss
Claude Lévi-Strauss adalah seorang antropolog sosial Perancis dan filsuf strukturalis.[1]  Ia lahir di Brussels, Belgia, pada 28 Nopember 1908 sebagai seorang keturuan Yahudi. Namun pada tahun 1909 orang tuanya pindah ke Paris, Perancis. Ayahnya bernama Raymond Lévi-Strauss dan ibunya bernama Emma Levy. Sejak kecil Lévi-Strauss sudah mulai bersentuhan dengan dunia seni, yang kelak akan banyak ditekuninya ketika dewasa, karena memang ayahnya adalah seorang pelukis.
Sesungguhnya pendidikan formal dan minat Lévi-Strauss pada awalnya bukanlah Antropologi. Pada tahun 1927, Lévi-Strauss masuk Fakultas Hukum Paris dan pada saat yang sama itu pula, ia pun mempelajari filsafat di Universitas Sorbonne. Studi hukum diselesaikannya hanya dalam waktu satu tahun. Sedangkan dari studi filsafat, aliran materialisme menjadi aliran yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Salah satu argument materialisme adalah segala sesuatu harus bisa diukur, diverivikasi, dan diindera. Namun pada suatu saat Levi-Strauss mengungkapkan kebosanannya dalam mengajar. Kemudian setelah membaca buku Primitive Social karya Robert Lowie, seorang ahli antropologi. Bermula dari membaca buku Robert Lowie itulah ketertarikannya akan dunia antropologi muncul. Akhirnya, Levi-Strauss semakin jelas berpaling kepada Antropologi ketika mengajar di Sao Paulo, Brazil, dan melakukan studi antropologi yang lebih luas di pusat Brazil. Selama mengajar di Brazil itulah ia mulai banyak melakukan ekspedisi di daerah-daerah pedalaman Brazil. Heddy Shri dalam bukunya menyebutkan, ekspedisi pertamanya adalah ke daerah Mato Grosso. Dari ekspedisi itu Levi-Strauss merasa mendapatkan pengalaman batin yang menginspirasikan banyak hal, yang tertuang dalam bukunya Trites Tropique. Itulah karya pertamanya dan sekaligus mengukuhkan dirinya masuk kedalam bidang antropologi.
Dalam prosesnya melakukan penelitian dan pengamatan banyak terbentur hambatan. Hal ini salah satunya tidak lepas dari karena ia termasuk keturunan Yahudi, yang saat itu dalam pergolakan pembantaian oleh Jerman. Sampai ia akhirnya harus mengalami pemecatan. Pada tahun 1947, ia kembali ke Perancis dan pada tahun berikutnya ia diangkat sebagai maitre de recherché selama beberapa bulan di CNRS (Center National de la Recherche Scintifique/Pusat Penelitian Ilmiah Nasional). Pada tahun yang sama, ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Sorbonne, dengan disertasi Les Structures elementaires de la parente. Levi-Strauss dianggap sebagai pendiri strukturalisme, sebuah paham yang memegang bahwa kode terstruktur adalah sumber makna dan bahwa unsur-unsur struktur yang harus dipahami melalui hubungan timbal balik mereka. Lebih lanjut, bahwa struktur sosial adalah kebebasan dari kesadaran manusia dan ditemukan dalam mitos dan ritual. Secara singkat, itulah inti dari teori strukturalisme menurut pendapat Levi-Strauss.
Levi-Strauss banyak menghasilkan karya-karya tulis besar yang sangat menarik banyak perhatian banyak kalangan, baik dari intelektual maupun awam. Karya-karya terbesar tersebut antara lain: The Elementary Structures of Kinship (1949), Structural Anthropology (1958), The Savage Mind (1962), and the Mythologics, 4 vols. (1964–72). Mythologics sendiri terdiri dari tetralogi The Raw and The Cooked, From Honey to Ashes, The Origin of Table Manners, dan The Naked Man.
B.     Teori Strukturalisme Dan Penelitian Lévi-Strauss
Secara umum, istilah strukturalisme banyak dikenal dalam Filsafat Sosial. Filsafat Eropa modern sering menyebut bahwa strukturalisme adalah sebuah fenomena sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa fenomena itu tidak peduli seberapa dangkal beragam wujudnya. Secara singkat, strukturalisme adalah fenomena social yang secara internal dihubungkan dan diatur sesuai dengan beberapa pola yang tidak disadari. Hubungan-hubungan internal dan pola merupakan struktur, dan mengungkap struktur-struktur ini adalah objek studi manusia. Pada umumnya, sebuah struktur bersifat utuh, transformasional, dan meregulasi diri sendiri (self-regulatory). Strukturalisme adalah metodologi yang menekankan struktur daripada substansi dan hubungan daripada hal. Hal ini menyatakan bahwa sesuatu selalu keluar hanya sebagai elemen dari penanda suatu sistem.[2]
Metodologi Struktural sesungguhnya berasal dari struktural linguistik dari Saussure, yang menggambarkan bahwa bahasa sebagai sebuah tanda dari aturan sistem sosial. Baru pada tahun 1940, ia mengusulkan bahwa fokus yang tepat penyelidikan antropologi berada di mendasari pola-pola pemikiran manusia yang menghasilkan kategori budaya yang mengatur pandangan dunia sampai sekarang dipelajari. Kemudian pada tahun 1960, Claude Levi-Strauss melanjutkan metodologi ini, tidak hanya untuk antropologi (strukturalisme antropologi) tetapi, memang, untuk penanda semua sistem. Namum memang Levi-Strausslah pada umumnya yang dianggap sebagai pendiri strukturalisme modern. Melalui karyanya, strukturalisme menjadi tren intelektual utama di Eropa Barat, khususnya Perancis, dan sangat mempengaruhi studi tentang ilmu-ilmu manusia.
Pada tahun 1972, Levi-Strauss mengeluarkan bukunya yang berjudul Strukturalisme dan Ekologi menjelaskan secara rinci rincian prinsip dari apa yang akan menjadi antropologi struktural. Di dalamnya, ia mengusulkan bahwa budaya, seperti bahasa, terdiri dari aturan tersembunyi yang mengatur perilaku praktisi.[3] Apa yang membuat budaya yang unik dan berbeda dari satu sama lain adalah aturan tersembunyi bagi pemahaman anggota tetapi tidak dapat mengartikulasikan, dengan demikian, tujuan antropologi struktural adalah untuk mengidentifikasi aturan-aturan ini. Dia mempertahankan budaya yang adalah proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis.
Ahli antropologi mungkin menemukan proses berpikir yang mendasari perilaku manusia dengan memeriksa hal-hal seperti kekerabatan, mitos, dan bahasa. Lebih lanjut, bahwa ada realitas tersembunyi di balik semua ekspresi budaya. Selanjutnya strukturalis bertujuan untuk memahami makna yang mendasari pemikiran manusia yang terungkap melalui aktivitas budaya. Pada dasarnya, unsur-unsur budaya yang tidak jelas dalam dan dari dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem yang berarti. Sebagai model analitis, strukturalisme menganggap universalitas proses pemikiran manusia dalam upaya untuk menjelaskan “struktur dalam” atau makna yang mendasari yang ada dalam fenomena budaya.[4]
C.     Implementasi Teori
Pada masa ini kita masih bisa banyak menemukan penelitian-penelitian yang menggunakan teori strukturalisme. Kita bisa mengambil contoh peneliti yang ingin mengetahui struktur pemikiran orang Surabaya sehingga dalam budayanya cenderung kasar, misalnya bahasa. Peneliti tersebut membandingkan dengan struktur pemikiran yang ada didalam budaya Yogyakarta yang cenderung lebih ramah. Antara Surabaya dan Yogyakarta yang walaupun kelihatannya berbeda sebenarnya ada sebuah struktur sama di dalam budaya. Dengan memahami struktur dalam budaya peneliti akan mengetahui sebuah keuniversalan dalam budaya. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh para ahli strukturalisme. Strukturalisme membantu memetakan pola perilaku manusia dalam budaya.

D. tANGGAPAN kRITIS[5]
Secara umum, strukturalisme menuai banyak kritik dari sisi epistemology. Validitas penjelasan struktural telah ditentang dengan alasan bahwa metode strukturalis yang tidak tepat dan tergantung pada pengamat. Artinya unsur subjektivisme sangat erat dalam penelitian strukturalisme. Satu peneliti dan menghasilkan hasil yang sama sekali lain dengan peneliti lainnya.
Paradigma strukturalisme terutama berkaitan dengan struktur jiwa manusia, dan tidak membahas aspek sejarah atau perubahan budaya. Pendekatan sinkronis, yang menganjurkan sebuah “kesatuan psikis” dari semua pikiran manusia, telah dikritik karena tidak memperhitungkan tindakan manusia individu historis. Dalam pemikiran strukturalis, ide-ide yang bertentangan secara inheren ada dalam bentuk oposisi biner, namun konflik-konflik ini tidak menemukan resolusi. Dalam pemikiran Marxis struktural, pentingnya perubahan abadi dalam masyarakat adalah mencatat: “Ketika kontradiksi internal antara struktur atau dalam struktur tidak bisa diatasi, struktur tidak mereproduksi tetapi diubah atau berevolusi”. Selanjutnya, yang lain telah mengkritik strukturalisme karena kurangnya perhatian dengan individualitas manusia. Budaya relativis sangat kritis terhadap ini karena mereka percaya struktural “rasionalitas” melukiskan pemikiran manusia sebagai seragam dan seragam. Budaya selalu mengandung unsur relative di dalamnya dan tidak bisa disamakan atau diseragamkan. Selain mereka yang memodifikasi paradigma strukturalis dan kritik ada reaksi lain yang dikenal sebagai Meskipun poststructuralists dipengaruhi oleh ide-ide strukturalis diajukan oleh Levi-Strauss “pascastrukturalisme.”, Pekerjaan mereka memiliki lebih berkualitas refleksif. Pierre Bourdieu adalah pascastrukturalis yang “… melihat struktur sebagai sebuah produk ciptaan manusia, meskipun para peserta mungkin tidak sadar akan struktur”. Daripada gagasan strukturalis dari universalitas proses pemikiran manusia yang ditemukan dalam struktur pikiran manusia, Bourdieu mengusulkan bahwa proses berpikir dominan adalah produk dari masyarakat dan menentukan bagaimana orang bertindak. Lain reaksi terhadap strukturalisme didasarkan pada penyelidikan ilmiah. Dalam setiap bentuk penyelidikan yang bertanggung jawab, teori harus difalsifikasi. analisis struktural tidak memungkinkan ini atau untuk validasi eksternal.

KESIMPULAN

Pada bagian ini kami pemakalah akan sedikit memberikan rangkuman atas hasil pemaparan keseluruhan tulisan ini. Sekiranya ada dua hal yang ingin kami tekankan. Pertama, yaitu bahwa argument utama strukturalisme adalah bahwa dalam setiap budaya terdapat sebuah struktur yang universal, sama dimanapun dan kapanpun. Banyak penelitian yang menggunakan teori strukturalisme tersebut. Tujuannya untuk memahami pola dalam kebudayaan.
Kedua, nyatanya teori strukturalisme mendapatkan banyak kritik dan sorotan yang tajam. Salah satunya yang mengena adalah bahwa manusia merupakan makluk yang komplek. Kekomplekan itu juga terbawa dalam perilaku budaya yang mereka hasilkan pula. Jika manusia kompleks maka usaha untuk “menyeragamkan” manusia dengan sebuah struktur yang pasti sungguh sangat terdengar naïf. Strukturalisme memang baik sebagai sebuah metodologi memahami manusia dan budaya. Strukturalisme adalah alat dan bukan tujuan dalam memahami manusia dengan segala kekomplekannya.


DAFTAR PUSTAKA

Bunnin, Nicholas And Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. Blackwell Publishing. New York. 2004
Diunduh dari . Culturalisme. com. pada Senin, 11 Maret 2013 pukul 17.00.



[1] Bunnin, Nicholas And Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, Blackwell Publishing, New York, 2004, Hlm. 384.
[2] Ibid.
[3] Diunduh dari . Culturalisme. com. pada Senin, 11 Maret 2013 pukul 17.00.
[4] Ibid.
[5] Pada bagian ini kami mengacu Ibid.