Kumpulan Makalah

Subscribe:

Ads 468x60px

Social Icons

About

Blogger news

Blogroll

Minggu, 27 Juli 2014

Tarekat Qadiriyah

MAKALAH
TAREKAT QADIRIYAH
Di Susun Guna Memenuhi Tugas Revisi
Mata Kuliyah: Tarekat dan Konsep Suluk
Dosen Pengampu: Dr. Imam Khanafi Al-Jauhari M, Ag



Di Susun Oleh:
Tri Wibowo               (2032 111 009)

PRODI AKHLAK TASAWUF
JURUSAN USHULUDDIN DAN DAKWAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN 2014



PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Qadiriyah adalah nama tarekat yang dinisbatkan kepada seorang sufi besar yang sangat legendaris yaitu Syekh Muhyiddin Abd Qadir al- Jailani. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia Islam.
Sebuah tarekat biasanya terdiri dari pensucian batin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan dan kesadaran sosial. Pensucian jiwa artinya melatih rohani dengan hidup zuhud, menghilangkan sifat-sifat jelek yang menyebabkan dosa, dan mengisi dengan sifat-sifat terpuji, taat menjalankan perintah agama, menjauhi larangan, taubat atas segala dosa dan muhasabah introspeksi, mawas diri terhadap semua amalan-amalannya.
Kekeluargaan tarekat terdiri dari syekh tarekat, syekh mursyid (khalifahnya), mursyid sebagai guru tarekat, murid dan pengikut tarekat, ribath (tempat latihan), kitab-kitab, sistem dan metode dzikir. Upacara keagamaan bisa berupa baiat, ijazah atau khirqah, silsilah, latihan-latihan, amalan-amalan tarekat talqin wasiat yang diberikan dan dialihkan seorang syekh tarekat kepada murid-muridnya. Dari unsur-unsur diatas salah satu yang paling penting dalam sebuah tarekat adalah silsilah sampai kepada Nabi. Karena silsilah akan menjadi tolak ukur sebuah tarekat itu mu’tabaroh (dianggap sah) atau tidak, serta dasar-dasar ajaran tarekat dan pengalaman-pengalaman tarekat yang mereka ajarkan itu berasal dari nabi atau bukan.
B.     Rumusan Masalah?
§  Mengenal Tokoh pendiri tarekat Qadariyah Syaich Abdul Qadir Al-Jailani?
§  Seperti Apakah Doktrin Tarekat Qadariyah?
§  Bagaimakah Historis proses kemunculan Thariqah Qadariyah Di indonesia?




PEMBAHASAN
1.      Tarekat Qadiriyah
a)      Pendiri dan riwayat hidupnya
Syekh Abd al-Qadir Jilani al-gauts atau Quthb Awliya lahir di desa Naif kota Gilan (wilayah Iraq sekarang) tahun 470 H atau 1077 M, wilayah yang terletak 150 km timur laut Baghdad. Dan meninggal di Baghdad pada tahun 561 H atau 1166 M. Ibunya seorang perempuan yang shalehah bernama Fathimah binti Abdullah al-Shama’i al-Husaini keturunan Rasulullah Saw. Ketika melahirkan Syekh Abd Qadir jilani ibunya berumur 60 tahun. Suatu kelahiran yang tidak lazim bagi wanita yag seumurnya. Ayahnya bernama Abu-Shalih, jauh sebelum kelahirannya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw yang diiringi oleh para sahabat, imam mujahidin, dan wali.
Nabi Muhammad berkata kepada Abu Shalih,”wahai Abu Shalih” Allah akan memberi anak laki-laki, anak itu kelak akan mendapat pangkat yang tinggi dalam kewalian sebagaimana halnya aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan.[1] Syekh Abd Qadir jilani menurut pandangan sufi adalah wali tertinggi (sultonul awliya) pemimpin para wali yang sering disebut quthub al-awliya atau wali quthub.
Nama lengkap dan silsilah Syekh Abd Qadir jilani sampai ke Nabi Muhammad Saw adalah Abu Muhammad Abd al-Qadir Jilani ibn Abi Shalih ibn Musa ibn Janki Dusat ibn Abi Abdillah ibn Yahya al-Zahid ibn Muhammad ibn Daud ibn Musa ibn Abd Allah al-Mahdi ibn Hasan al-Musanna ibn Hasan al-Sibthi ibn Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra al-Bathul binti Rasulallahi Saw. Silsilah ini amat penting artinya dalam tradisi tarekat karena “Darah Biru” spiritual harus bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Di samping Itu, bersambungnya silsilah tersebut merupakan indikator bahwa tarekat tersebut di anggap muktabar.
§  Silsilah Thariqah Qadiriyah Hingga Di Indonesia
Allah S.W.T
Malaikat Jibril
Nabi Muhammad S.A.W
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib
Sayyidina Husein
Imam Zainul Abidin
Muhammad Al-Baqir
Ja’far Shadiq
Musa Al-Kadzim
Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho
Ma’ruf al-Karkhi
Sari al-Saqathi
Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi
Abu Bakar Dulafi al-Syibli
Abdul Wahid al-Tamimi
Abul Faraj al-Thusi
Abu Hasan Ali al-Hakkari
Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi
Syeikh Abdul Qadir Jilani
Moh Hattak
Syamsuddin
Syarafuddin
Zainuddin
Nuruddin
Waliyuddin
Hisyamuddin
Yahya
Abu Bakar
Abdurrahim
Usman
Klamuddin
Abdul Fattah
Moh. Murod
Syamsuddin
Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar
Abdul Karim
Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura
Moh Kholil
Moh Romli Tamim
Usman Ishaq
M Mustain Romli[2]
Bersambungnya silsilah tersebut merupakan idikator bahwa tarekat tersebut di anggap Muktabarroh. Keutamaan Syekh Abd Qadir sudah tampak semenjak bayi, ia tidak mau menyusu disiang hari kepada ibunya selama bulan ramadhan, begitu juga dengan kejujurannya Syekh Abd Qadir, sudah terlihat semenjak usia balita. Disamping itu karena penghormatan yang sangat tinggi kepadanya menimbulkan cerita-cerita kekeramatan yang sangat luat biasa. Namun tidak dapat dipungkiri akan ketinggian ilmunya dan kekuatan pengaruhnya. Kepribadiannya yang sangat menarik, artikulasi bahasa yang bagus menjadikan ia tokoh yang sangat dihormati dan dikenang sepanjang zaman. Dalam bidang hukum islam, beliau lebih cenderung pada mazhab Hambali, sedangkan pemikiran kalamnya lebih keliatan warna teologi Asy’ari.
b)     Sejarah Perkembangannya
Qadiriyah adalah nama tarekat yang dinisbatkan kepada seorang sufi besar yang sangat legendaris yaitu Syekh Muhyiddin Abd Qadir al- Jailani. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas islam karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia Islam. Kendati struktur organisasinya baru muncul beberapa dekade setelah kematiannya, semasa hidup sang syekh telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemikiran dan sikap umat islam. Dia dipandang sebagai sosok ideal dalam keunggulan dan pencerahan spiritual. Namun generasi selanjutnya mengembangkan sekian banyak legenda yang berkisar pada aktivitas spiritualnya, sehingga muncul berbagai kisah ajaib tentang dirinya.
[3]Syekh Abd Qadir al-Jilani memimpin madrasah dan ribathnya di Baghdad. Sepeninggalnya kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Abd Wahab (552-593 H atau 1151-1196 M). Dan setelah Abd Wahab wafat maka kepemimpinannya dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdussalam (w. 611 H atau 1241 M). Madrasah dan ribat (pemondokan para sufi), secara turun temurun tetap berada dibawah pengasuhan keturunan Syekh Abd Qadir al-jilani. Hal ini berlangsung sampai hancurnya kota Baghdad oleh ganasnya serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan (1258 M atau 656 H). Serangan Hulagu Khan inilah yang menghancurkan sebagian besar keluarga Syekh Abd Qadir al-Jilani, serta mengakhiri eksistensi madrasah dan ribatnya di kota Baghdad.
Perkembangan tarekat ini sangat meluas, [4]Menurut Trimingham, sebagaimana di kutip olehMartin Bruinessen, mengatakan bahwa sekitar tahun 1300 tarekat qadariyah sudah mapan di irak dan suriah, tetapi masih kecil belum disebarluaskan ke luar wilayah ini. Baru satu abad kemudian tarekat ini masuk benua india untuk pertama kalinya dan barumulai berkembang menjelang akhir abad ke-15. Pada masa yang sama, tarekat ini juga mulai berkembang di Afrika Utara. Sekitar tahun1550, tarekat ini dibawa ke Afrika timur. di turki tarekat qadariyah baru masuk pada awal abad ke-17, dan kemudian berkembang setelah abad tersebut. Tokoh besarnya, Ismail Rumi (w. 1643).
Tarekat qadariyah di bawa ke india pertama kali oleh Mir Nurullah. Ia adalah cucu tokoh sufi iran yang besar, syah ni’matullah Wali. Di india wilayah yang menjadi tempat pertama kalinya tarekat qadariyah masuk adalah negara Bidar, di bagian Barat India Tengah. Sedangkan daerah india yang subur bagi tarekat qadariyah adalah Gujarat (India bagian Barat). Guru pertama disana agaknya adlah sayyid Jamil Patsri, yang mengkalaim diri keturunan Abdul Qadir sendiri melalui putranya, Abdu AL-wahab. Selain dia dua keturunan syaich Abdul Qadir lainya juga datang dan menetap di Ahmadabad. Semasa dengan tiga syaich tarekat ini, dua syaich dari jalur lain juga mengajarkan Tarekat Qadariyah di kota Burhanpur, yakni syaich Husain Khuda Nama dan putranya sayid Abd’ Al-Shamad Khuda-Numa.
Proses masuknya tarekat Qadariyah ke indonesia di kisahkan lewat penyair besar Hamzah Fansuri. Ia mendapat Khilafat (Ijazah UntukMengajar) ilmu syaich Abdul Qadir ketika bermukim di Ayuthia, ibu kota Muangthai (Orang persia dan india menamakanya dalam bahasa persi, syahr-i Naw, Kota Baru). Hal itu dapatdi buktikanadanaya baityang berbunyi:
Hamzah nin asalnya Fansuri
Mendapat Wujud di tanah Syahr Nawi
Beroleh khilafat yang ali
Dari pada Abdul Qadir Jailani.[5]
Namun ada pendapat lain bahwa Hamzah Fansuri mendapat Khilafat di Baghdad, tetapi yang pasti beliau adalah orang Indonesia pertama yang menganut Tarekat Qadariyah dan Qadariyah adalah tarekat pertama yang disebut dalam sumber-sumber pribumi. Pada waktu itu beliau berziarah  ke makam Syai Abdul Qadir yang terletak di kota Baghdad dan barang kali terjadi pembaitanya dalam ilmu Syaich Abdul Qadir, hal itu bisa dilihat dalam syair berikut:
Syaich Al-Fansuri Terlalu Ahli,
Beroleh Khilafat Di Benua Baghdad.[6]
Indikasi bahwa Tarekat Qadariyah bertahan di Aceh setelah Hamzah sekitar Tahun 1645, syaich yusuf Makasar dan ia masuk Tarekat Qadariyah disana, seperti yang ditulis dalam risalah Safinah al-Najat.
2.      Ajaran dan Praktik tarekat qadariyah[7]
a.      Aspek ajaran
Menurut al-Sya’rani bahwa bentuk dan karakter tarekat Qadariyah adalah tauhid, sedangkan pelaksanaannya tetap menempuh jalur syariat lahir dan batin.  Syaikh Ali ibn al-Hayti menilai bahwa tarekat Syekh Abdul Qadir adalah pemurnian akidah dengan meletakan diri pada sikap beribadah, sedangkan Ady ibn Musafir mengatakan bahwa karakter tarekat qadariyah adalah tunduk dibawah garis keturunan takdir dengan kesesuaian hati dan roh serta kesatuan lahir dan batin.
Ajaran spiritual Syekh Abdul Qadir berakar pada konsep tentang dan pengalamannya akan Tuhan. Baginya, Tuhan dan tauhid bukanlah suatu mitos teologis maupun abstraksi logis, melainkan sebuah pribadi yang kehadiran-Nya merengkuh seluruh pengalaman etis, intelektual dan estetis seorang manusia. Ia selalu merasakan bahwa tuhan senantiasa hadir. Nasihat Rasulullah dalam hadits, “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa ia melihatmu. Ini merupakan semboyan hidupnya yang diterjemahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Khotbahnya menggambarkan keluasan kesadarannya akan kehadiran Tuhan yang serba meliput. Ia meyakini bahwa kesadara ini membersihkan dan memurnikan hati seorang manusia, serta mengakrabkan hati dengan alam roh. Ajaran Syekh Abdul Qadir selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu beliau memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tinggi yaitu taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, dan jujur.
b.      Aspek praktik[8]
Diantara praktik spiritual yang diadopsi oleh tarekat Qadariyah adalah “dzikir”, melantunkan asma Allah berulang-ulang. Didalam praktik dzikir terdapat beberapa tingkatan dalam penekanannya.
*      Dzikir dengan satu gerakan dilakukan dengan mengulang-ngulang asama Allah, melalui tarikan nafas yang kuat, diikuti dengan penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sampai nafas kembali normal.
*      Dzikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma Allah di dada sebelah kanan, lalu dijantung dengan berulang-ulang, hal ini dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan rasa gelisah dan pikiran yang kacau.
*      Dzikir tiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengulang pembacaan asma Allah dibagian dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri dan akhirnya dijantung. Kesemuanya dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dan pengulangannya yang lebih sering.
*      Dzikir empat dilakukan dengan duduk bersila, dengan mengucapkan asma Allah berulang-ulang di dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri, lalu ditarik kearah jantung, dan terakhir dibaca di depan dada. Cara terakhir ini dilakukan lebih kuat dan lebih lama.
Praktik dzikir ini dapat dilakukan bersama-sama, dibaca dengan suara keras atau perlahan , sambil duduk membentuk sebuah lingkaran setelah shalat, pada waktu shubuh maupun malam hari. Jika seorang pengikut sanggup melantunkan asma Allah empat ribu kali setiap harinya, tanpa putus selama dua bulan, dapat diharapkan bahwa dirinya telah memiliki kualifikasi untuk meraup pengalaman spiritual tertentu.
Setelah melakukan dzikir, tarekat menganjurkan untuk melakukan pegaturan nafas (pas-i anfas) sedemikian rupa, sehingga dalam proses menarik dan menghembuskan nafas, asma Allah bersikulasi dalam tubuh secara otomatis. Kemudian diikuti dengan murokobah. Dan dianjurkan untuk berkonsentrasi pada sejumlah ayat Al-Quran atau sifat-sifat ilahi tertentu, hingga sungguh-sungguh terserap pada kontemplasi.

PENUTUP
§  Kesimpulan
Setelah saya, berfikir , dan mengkaji ulang buku-buku yang menjadi bahan referensi makalah saya, saya sangat kesulitan sekali kira-kira kata-kata apa yang pantas saya tuliskan untuk menjadi penutup kesimpulan dari makalah ini. Ada sebuah hadits yang mengatakan” al-insanu mahalul khoto wa nisyan” manusia itu adalah tempat kesalahan dan kelupaan,  karena terkadang manusi itu berbuat salah, namun terkadang manusi itu juga berbuat benar. Begitu juga karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya hanya bisa mengutip poin-poin yang menurut saya sangat penting sekali untuk diketahui, sebagi bahan kesimpulan makalah metodologi ini:
  • Salah satu yang paling penting dalam sebuah tarekat adalah silsilah, karena ini akan menjadi sebuah tolak ukur apakah tarekat itu dianggap muktabaroh (sah) atau tidak
  • Tarekat Qadiriyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul dan sebagai pelopor bagi munculnya tarekat-tarekat yang lain
  • Tarekat Qadiriyah pertama kali berkembang di Baghdad, terus menyebar keseluruh pelosok bumi, hingga ke Indonesia.
  • Diantara metode yang diadopsi oleh tarekat Qadiriyah adalah dzikir lailaha illallah
  • Terakhir, pada intinya tujuan tarekat sendiri tiada lain untuk mencari kedekatan beribadah yang lebih dekat dengan tuhan. Sebagi pensucian jiwa dari segala dosa dan kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anshary, M. Hilman. (ed.), Resonansi Spiritual Wali Quthub Syaich Abdul Qadir Jailani, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004
Drs. Aqib, Kharisudin. M.Ag. 1998. AL-HIKMAH memahami ‘teosofi tarekat qodariyah wa naqsabandiya’. Dunia Ilmu. Surabaya
Hj. Dr. Mulyati, Sri. MA. 2011. Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia. Kencana. Jakarta





[1] M. Hilman Anshary, (ed.), Resonansi Spiritual Wali Quthub Syaich Abdul Qadir Jailani, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), h. 3.
[3] Drs. Aqib. Kharisudin, M.Ag. AL-HIKMAH memahami teosofi tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah,( Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), hal: 49.
[4] Hj.Dr. Mulyati. Sri, MA. Tarekat-Tarekat Muk’tabarah di Indonesia,( Jakarta: Kencana, 2011),  h. 48-49.
[5] Syaich Muhammad Naquib al-attas,The Mysticism of Hamzah Fansuri, (Kuala Lumpur: Universitas of Malaya Press, 1970), h. 11, G.W..J. Drewes & L.F. Brakel, The Poem of Hamzah Fansuri, (Dodrecht: Foris, 1986), h. 44-45.
[6] Syeik Muhammad. The Mysticism, h. 11.
[7] Hj.Dr. Mulyati. Sri, MA. Tarekat-Tarekat Muk’tabarah di Indonesia,( Jakarta: Kencana, 2011),  h. 36-37
[8] Ibid, h. 44

Edisi Tahab Belajar Dsainer




















Senin, 23 Juni 2014

MEMPERKOKOH DIRI DENGAN SABAR (Makalah Hadis Sufi I Semester 6)

MAKALAH
MEMPERKOKOH DIRI DENGAN SABAR
Di Susun Guna Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah: Hadist Sufi
Dosen Pengampu: Arif Chasanul Muna, M. Ag


Di Susun Oleh:
Tri Wibowo                 (2032 111 009)
Ahmad Ubaidillah      (2032 111 014)
Ali Mustofa                 (2032 111 016)

USHULUDDIN DAN DAKWAH
PROGRAM STUDI AKHLAK TASAWUF
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN)
PEKALONGAN
2014


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah meninggalkan seala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Maka sabar merupakan sebuah perjuangan (jihad) untuk mengekang hawa nafsu dan kembali ke jalannya Allah. Dengan keadaan yang demikian, sabar menjadi sebuah sifat yang sangat berat. Firman Allah : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,’ (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 45-46).
Demikian beratnya melaksanakan sabar sehingga menjadi sifat istimewa yang hanya sanggup dikerjakan bagi orang-orang yang khusu’. Orang yang khusu’ itulah yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik, tujuan yang benar dan dengan penuh kesabaran mereka mentaati peraturan agama baik perintah maupun larangan.
Bersabar bukan hanya dilakukan ketika kita mengalami kesusahan dan bencana namun lebih dari itu kita mestilah sabar dalam ketaatan terhadap perintah agama. Misalnya dalam melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji sangat memerlukan kesabaran. Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi “sabar” yang menjadi kebiasaan sehari-hari dalam menjalankannya dengan menuntut keridhaannya. Sabar dan Shalat banyak mengandung hikmah antara lain : taat, patuh, setia, bertaqwa kepada Allah.
  1. Rumusan Masalah?
a)      Description Hadist tentang Memperkokoh diri dengan sabar?
b)      Pengertian sabar?
c)      apa saja tingkatan Sabar dan macam-macam sabar?
d)     Mengetahui Urgensi Sabar?


BAB II
PEMBAHASAN
MEMPERKOKOH DIRI DENGAN SABAR
عن ابي امية الشعباني, قال: اتيت ابا ثعلبة الخشني, فقلت له: كَيف تصنع بهذه الأيه؟ قال : أية اية؟ قلت : قوله تعالي : يأيها الذين امنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم, قال: أما واالله لقد سأ لت عنها خبيرا, سأ لت عنها رسول االله صل االله عليه وسلم فقا ل: "بل ائتمروا بالمعرف , وتنهوا عن المنكرا , حتي إذا رايت شحا مط عا, وهوى متبعا, ودنيا مؤثرة, وإعجا ب كل ذي رأي برأيه فعليك بخا صة نفسك ودع العوام, فإن من ورائكم أيا ما الصبر فيهن مشل القبض على جمر, للعا مل فيهن مشل أجر خمسين رجللا يعملون مشل عملكم ". قل عبد الله بن المبا رك: وزادني غير عتبة, قيل : يا رسول الله, أجر خمسين منا أو منهم؟ قال : بل أجر خمسين منكم " (رواه التر ميذي).
Artinya: “Di riwayatkan dari abi umayah sa’bani berkata : saya datang/ menemui kepada abu sa’bani al-khusani, kemudian saya berkata kepada beliau: Bagaimana caranya engkau mengerjakan ayat ini? Abu sa’labah berkata, ayat yang mana? Saya berkata: firman Allah S.W.T, “Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian jangan sampai ada seseorang yang menyesatkan ketika kalian itu sudah di berikan petunjuk”, abu sa’labah berkata demi Allah saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang ayat tersebut kemudian Rasul Menjawab perintahkanlah kebagusan, dan laranglah kemungkaran sehingga ketika kamu melihat keburukan yang di ikuti hawa nafsu yang di anut, dunia yang dikejar dan keujuban setiap orang yang berargument dengan akalnya maka jagalah diri kalian dan tinggalkanlah orang-orang awam, sesungguhnya ada beberapa masa yang akan datang diantara kalian semua ada kesabaran yang disamakan seperti menggenggam batu bara/mowo.“Bagi orang yang beramal pada zaman itu seperti halnya ganjaran 50 orang yang beramal seperti amalnya kalian”. Abdullah bin Mubarok berkata: selainya utbah menambahkan riwayat kepadaku. Ada yang bertanya: wahai Rasulullah, ganjaran 50 orang dari golongan kita/dari golongan mereka? Rasul bersabda: ganjaran 50 orang dari golongan kalian. (H.R Imam Tirmidzi).
  1. Pengertian sabar
[1]Sabar merupakan bentuk pengendalian diri`atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”
Sabar secara istilah, terdapat beberapa pengertian yang diantaranya adalah: Abu Zakaria Al-Anshori memgemukakan bahwa sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang di senangi maupun yang di benci. Menurut Qosim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat.[2]
            Toyib sah dalam bukunya Aqidah Akhlak berpendapat bahwa sabar mempunyai dua macam pengertian yairu:
  1. Sabar yang berarti lapang dada dan tabah dalam menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian yang menimpa diri sendiri.
  2. Mushabroh yang berarti tabah dan teguh menghadapi persaingan, teguh mempertahankan prinsip, lebih tabah dan teguh dalam menjalani atau tidak.[3]
Dari definisi sabar demikian dapat disimpulkan, yang dimaksud sabar ialah: Tahan terhadap penderitaan atau sesuatu yang disenagi dengan ikhlas dan ridho serta menyerahkan kepada Allah SWT dan tidaklah dinamakan sabar orang yang menahan diri secara paksa, tetapi sabar yang sebenarnaya ialah sabar dalam arti menyerah kepada Allah dengan lapang dada.
  1. Hirarki Sabar
            Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat pengendalian nafsu dalam diri manusia, yaitu terbagi menjadi tiga tingkatan:
a)      Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi.
b)      Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karenya kesabaranya lemah maka ia kalah.
c)      Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nasu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.
  1. Macam-macam Sabar
1)      Sabar terhadap maksiat
Yaitu menahan diri untuk menghindari perbuatan jahat, dan dari perbuatan hawa nasu, dan menghindarkan diri dari semua pebuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus kedalam jurang kehinaan.
2)      Sabar dalam menghadapi ibadah
Sabar dalam menghadapi ibadah, dasarnya ialah prinsip-prinsip islam yang sudah lazim, pelaksanaanya perlu latihan yang tekun dan terus menerus, seperti latihan shalat, ini merupakan kewajiban yang memerlukan kesabaran.
3)      Sabar dalam  menahan diri dari kemunduran
Yaitu menhan diri dari surut kebelakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang telah di yakininya, misalnya pada saat membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, mempertahankan harta dari perampok, menjaga nama baik.
  1. Sabar Sebagaimana Dalam Al-Qur’an
Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur’an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT. Para ulama mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur’an menjadi beberapa macam:
  1. Sabar merupakan perintah Allah SWT.
Sebagaimana yang terdapat dalam surat al-baqarah ayat 153:[4]
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلوَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّبِرِيْنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
  1. Larangan Isti’jal (tergesa-gesa/tidak sabar).
Sebagaimana dalam surat Al-Ahqaf ayat 35:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا اْلعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
Artinya: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…..”.
  1. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar.
Di jelaskan dalam surat Al-Anfaal ayat 46:[5]
وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّبِرِيْنَ
Artinya: “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits tersebut menggambarkan kesabaran merupakan “dhiya’ “ (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW dalam haditsnya menerangkan:
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
Artinya: “…Dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim).
  1. Urgensi Realisasi sabar
a)      Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
Salah satu contohnya adalah dalam beribadah dapat di-implementasikan dengan bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah, dengan menghadirkan hati untuk tidak bersikap ‘ujub, riya atau pun cari popularitas lainnya. Karena keikhlasan dalam beribadah merupakan syarat mutlak untuk diterimanya semua amalan yang kita lakukan, dan kelak pahalanya seseorang yang mampu dan selalu bersabar di dalam menjaga ketaatannya adalah setara dengan 600 derajat di hadapan Allah SWT.
b)      Sabar di saat sedang dalam menghadapi musibah.
Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan yang lebih baik. Seseorang dapat dikatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Seseorang yang selalu bersabar di saat tengah di timpa musibah, akan mendapatkan sebanyak 300 derajat kemulyaan dari Allah SWT.
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.” Wanita tersebut menjawab: Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku. Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada rasulullah SAW,(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai rasulullah SAW. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.” (HR. Bukhari Muslim).[6]
Dari Suhaib ra, bahwa rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ, إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ, وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صََبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya, dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin: yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, untuk berjuang dan lain sebagainya. Karena, seseorang bisa di katakan sabar apabila dalam kehidupannya dia tidak selalu merasa menyesal, dalam hidupnya dia selalu memandang ke arah kemajuan(positive thinking), karena seseorang yang di limpahkan keimanan akan selalu meyakini janji Allah untuk selalu bersabar, sebagaimana janji-Nya dalam akhir surat Az-Zumar ayat 10:
…………….إِنَّمَا يُوَفَّى الصّبِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حَسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar: 10).
  1. Kiat-Kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran guna diri menjadi kokoh.
Ketidaksabaran merupakan salah satu penyakit hati, yang seyogyanya diantisipasi sejak dini. Karena hal ini memiliki dampak negatif dari amalan yang dilakukan seorang manusia. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, dan enggan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna meningkatkan kesabaran, diantaranya:
  • Mengikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya kesabaran.
  • Memperbanyak tilawah (baca: membaca) al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena al-Qur’an merupakan obat bagi hati manusia.
  • Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
  • Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu kita untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti’jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat “amalan” seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya.
  • Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah/Kos-kosan hendaklah dilatih untuk beraktifitas positif seperti membaca, beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi. Dan kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
  • Membaca kisah-kisah kesabaran para Nabi, sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Karena hal ini juga akan menanamkan keteladanan yang patut dicontoh yang kemudin dapat di aplikasikan dalam kehidupan nyata di dunia.[7]


BAB III
PENUTUP
*      Kesimpulan
Inilah sekelumit Tekstualis mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar merupakan salah satu sifat dan karakter orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena pada dasarnya kita memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya. Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama-sama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya, Amin.


DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Qayyim Al-Zauwjiyyah, Al-Fawa’id.
Supiana dan karman, 2003, materi pendidikan islam, (bandung : rosda).
Saputra Thiyib sah dan wahyudin, 2004, aqidah akhlak, (semarang: toha putra)
Departemen Agama RI, 2004, Al-Qur’an digital dan terjemahan, K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, Prof Dr. H.M.D. Dahlan. Penerbit: CV Diponegoro, Bandung.
Tasmara Toto, 2001, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence), (Jakarta: Gema Insani Press).




[1] Ibnu Qayyim Al-Zauwjiyyah, Al-Fawa’id. H. 95.
[2] Supiana dan karman, materi pendidikan islam, (bandung : rosda 2003) hal 228.
[3] Thiyib sah saputra dan wahyudin, aqidah akhlak, (semarang: toha putra, 2004) hal 175-176.
[4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an digital dan terjemahan, K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, Prof Dr. H.M.D. Dahlan. Penerbit: CV Diponegoro, Bandung.
[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’an digital dan terjemahan, K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, Prof Dr. H.M.D. Dahlan. Penerbit: CV Diponegoro, Bandung.
[6] K.H. Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence), (Depok: Gema Insani Press,2001) hlm. 212.